Dari para incumbent ini, Arif Afandi dan Bambang DH dkk, kita tidak mendapat sebuah isu besar yang “memaksa” masyarakat untuk memilih kembali. Hanya isu kontinuitas yang ditonjolkan. Kontinuitas bagi masyarakat grassroot bisa berarti kontinuitas untuk hidup dalam keterbatasan yang jauh dari kesejahteraan.
Mestinya Arif Afandi dapat melontarkan sebuah otokritik terhadap proses pembangunan. Sehingga jelas bagi public mana buah karyanya dan mana yang bukan. Bambang DH dkk pun harusnya bisa melontarkan isu besar lain tentang Surabaya yang bisa membuat publik bergairah untuk memilihnya kembali. Bukan mengulang slogan 5 tahun lalu : “ayo, kita selesaikan yang tertunda”. 8 Tahun lebih memimpin Surabaya mestinya membuat Bambang DH puny aide brillian lain untuk 5 tahun ke depan.
Yulyani yang dicitrakan sebagai vokalis dewan periode lalu, belum terlihat menggulirkan isu tertentu seperti saat menjabat di komisi B DPRD waktu itu. Isu “dengan hati” lebih mengarah kepada sosok, dan belum menjadi isu menarik bagi masyarakat. Sutadi yang dikabarkan melejit, sampai saat ini belum ada slogan yang ditampilkan. Baliho pun tak pernah terlihat. Yang dilakukan hanyalah bersosialisasi dengan para pejabat partai yang dilamarnya. Dhimam Abror hamper tak pernah melempar isu, hanya membangun optimisme diri, bukan optimisme masyarakat. Emy Susanti pun tak beda. Meski mengusung isu gender dan pengalaman mendampingi suami sebagai Bupati, tak ada pula isu besar keluar dari Bu Doktor ini. Adies Kadir mengusung tema Harapan Baru. Terdengar abstrak, karena tidak disertai penjelasan lebih lanjut program apa yang bisa memberikan harapan baru tersebut. Atau rekam jejak apa yang bisa diartikan sebagai “gelagat” dari sebuah harapan baru itu. Yusuf Husni yang membawa isu putra daerah setali tiga uang. Minus isu besar untuk memajukan tanah kelahirannya ini.



