Oleh: MF Utomo, aktivis Jaringan Elektoral Rakyat Derah (JERRYDA) Surabaya
(dimuat di Opini Metropolis Jawa Pos)
Panggung pilkada hari-hari ini semakin besar. Hampir semua media massa menyediakan diri sebagai media kampanye bagi para kandidat calon walikota atau calon wakil walikota Surabaya. Koran kita Jawa Pos menyediakan satu halaman untuk liputan pilwali, belum termasuk berita di halaman Metropolis. Media cetak lain menampilkan kolom khusus pilwali. Televisi lokal pun membuat acara-acara yang menampilkan para kandidat. Termasuk juga radio dan media-media online. Semua media telah melaksanakan tugasnya menyukseskan pilwali dengan memberi porsi pemberitaan yang memadai.
Kesungguhan dan niat baik para pengelola media tersebut ternyata tidak sejalan dengan isu yang dibawa oleh para cawali. Panggung besar itu seakan kosong dari isu-isu besar. “Sound system” panggung besar itu hanya memutar lagu-lagu lama. Jika kita runut pemberitaan di media massa tentang pilkada, maka yang akan kita temukan adalah persoalan- persoalan berikut: rekomendasi partai, dukung-mendukung komunitas, elektabilitas dan popularitas berdasarkan survey, pasangan calon walikota dan calon wakil walikota, dan beberapa isu kecil lainnya. Tiba-tiba sesuatu yang kecil pun dianggap besar. Sebuah portable harddisc milik seorang calon yang ketlisut pun pernah menjadi berita. Para kandidat sibuk mengenalkan dirinya secara fisik, mempermak penampilannya.



