Apakah memakai jaket kulit, batik, atau jas. Mengenakan topi, udheng, atau songkok. Apakah memakai sanggul, jilbab, atau kerudung. Apakah lebih baik memakai kumis, memanjangkan jenggot dan cambang, atau membuatnya klimis. Apakah rambut dibiarkan beruban ataukah disemir hitam. Isu-isu besar yang mestinya kita dengar dan saksikan nyaris tidak ada. Para kandidat seakan lupa untuk menampilkan raison d’etre menjadi calon walikota. .
Mari kita simak satu-satu “performance” para kandidat. Fandi Utomo muncul terlebih dahulu pascalebaran tahun lalu dengan mengusung tema “hadir dan melayani”. Mungkin yang dimaksud adalah selalu hadir jika diundang dan berbagi kepada para pengundang. Tidak jelas apakah “melayani” adalah sebuah rekam jejak seorang Fandi Utomo ataukah hal yang akan dilakukan ketika telah menjabat. Arif Afandi kemudian muncul dengan “Terusno Rek”.
Barangkali maksudnya adalah meneruskan karir dari wakil walikota menjadi walikota. Masyarakat bertanya apa yang akan diteruskan? Apakah program Pemerintah Kota selama ini? Apakah itu hasil kerja Arif Afandi? Tidak dijelaskan. Saleh-Bambang bahkan muncul tanpa isu, hanya sebuah tagline “yes” yg kemudian berubah menjadi “rek”.



